Beranda Internasional Akan Bebas, Abu Bakar Ba’asyir Tetap Tolak Taat Pancasila

Akan Bebas, Abu Bakar Ba’asyir Tetap Tolak Taat Pancasila

72
0



Jakarta

Pendiri Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Abu Bakar Ba’asyir, yang mendekam di penjara dalam kasus terorisme, dijadwalkan akan segera dibebaskan.

Begitu bebas, Abu Bakar Ba’asyir akan kembali berdakwah, seperti diungkapkan seorang putranya, Abdul Rochim Ba’asyir. Betapapun, kesibukan dakwah itu kemungkinan akan jauh berkurang.

“Kondisi beliau sudah tidak seperti dulu dan sudah tua. Kegiatan dakwah mungkin akan berkurang. Beliau akan lebih banyak beristirahat di rumah,” ujar Rochim.

Putra bungsu Ba’asyir itu juga mengatakan bahwa keluarganya sangat bersyukur atas bebasnya pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki itu.

“Untuk syukuran keluarga dengan mengundang tetangga dan sekitarnya. Insyaallah nanti pesantren juga akan melakukan persiapan untuk penyambutan. Hari ini akan koordinasi dengan pesantren,” kata Rochim.

“Hanya taat kepada Islam” Bebasnya Abu Bakar Ba’asyir setelah persyaratan bebas bersyarat “diringankan” dengan menekankan ia hanya akan “taat kepada Islam.”

Pemilihan kata-kata dalam surat pernyataan itu, menurut Yusril Ihza Mahendra, penasihat hukum pasangan calon Presiden/Wakil Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin, disepakati setelah Ba’syir menolak menandatangani dokumen pembebasan bersyarat yang mencakup taat kepada Pancasila.

“Yang harus ditandatangani Pak Ba’asyir agak berat bagi beliau karena beliau punya keyakinan yang dipatuhi hanya Allah, hanya Tuhan dan beliau menyatakan hanya taat kepada Islam. ‘Jadi kalau saya diminta tanda tangan taat kepada Pancasila, saya tak mau’,” kata Yusril tentang isi percakapannya dengan Ba’syir di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor.

“Beliau hanya ingin taat kepada Islam dan kita memahaminya…Tak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila dan tak mau berdebat panjang dengan Pak Ba’asyir,” tambah Yusril dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin, Jumat (18/01).

Ba’asyir telah menjalani hukuman selama sembilan tahun dari 15 tahun hukuman penjara karena dinyatakan bersalah pada Juni 2011 dalam kasus mendanai pelatihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.

Ulama berusia 81 tahun ini sebelumnya ditahan di Nusakambangan, Cilacap, namun dipindahkan ke LP Gunung Sindur, Bogor dengan alasan kesehatannya menurun.

Yusril mengatakan Ba’asyir telah mendapatkan remisi tiga kali dan berhak untuk bebas bersyarat dan menyatakan telah mendapatkan persetujuan dari Presiden Joko Widodo untuk membebaskannya dari penjara dengan “pertimbangan kemanusiaan” karena “sudah berusia 81 tahun dengan kondisi kesehatan yang semakin menurun, dengan pembengkakan kakinya yang berwarna hitam.”

Namun, Abdul Rochim Ba’asyir mengakui bahwa kondisi kesehatan bapaknya semakin membaik setelah mendapatkan perawatan rutin selama menjadi tahanan di LP Gunung Sindur.

“Kaki beliau yang bengkak sudah mulai berkurang dan keluhan sering kram dan pinggang sering sakit,” ungkap Rochim.

Proses administrasi pembebasan Ba’asyir tidak akan memakan waktu lama namun dia sendiri meminta waktu tiga sampai lima hari untuk berkemas, kata Yusril.

Tak lagi mendukung ISIS Peneliti terorisme Sidney Jones menyatakan Ba’asyir sempat dibaiat sebagai pengikut gerakan yang menamakan diri ISIS, yang muncul saat Ba’asyir sudah di dalam penjara.

Namun Sidney menyatakan pengaruh dua putra Ba’asyir menyebabkan ulama ini tak lagi menjadi pendukung gerakan kekhalifahan itu.

“Melalui pengaruh anaknya Ba’asyir tak lagi pro ISIS… jelas anaknya Abdul Rochim dan Abdul Rosyid tidak mendukung ISIS. Itu bisa berarti bahwa mereka bisa mempengaruhi bapaknya dan kalau begitu, mungkin tak jadi risiko kalau sudah bebas. Karena jelas unsur pro-ISIS adalah kelompok yang paling berbahaya di Indonesia sekarang ini,” kata Sidney.

Putra Ba’asyir, Abdul Rochim, yang ikut mendampingi Yusril Ihza Mahendra mengatakan ayahnya akan langsung pulang ke Solo setelah dibebaskan, “kemungkinan Senin atau Selasa”.

Menyusul serangan bom Bali pada 2002, Ba’asyir ditetapkan sebagai tersangka dan divonis dua tahun enam bulan setelah dinyatakan berkomplot dalam kasus terorisme tersebut. Setelah bebas pada Juni 2006, ia kembali ditahan pada Agustus 2010 dengan tuduhan terkait pendirian kelompok militan di Aceh.

Ba’asyir ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus serangan bom di Bali pada 2002. Ia divonis 2,6 tahun penjara setelah dinyatakan berkomplot dalam kasus itu.

Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pada tahun 2012 ditetapkan oleh Departemen Luar Negeri AS, dalam daftar organisasi teroris asing (FTO).

Saat itu, JAT dicurigai terlibat dalam berbagai kejahatan antara lain perampokan bank untuk mendanai kegiatan mereka, termasuk serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Solo, Jawa Tengah tahun lalu dan sebuah masjid di Cirebon, Jawa Barat.

JAT didirikan oleh Ba’asyir setelah keluar dari Jemaah Islamiah, yang dinyatakan berada di belakang bom Bali 2002 dan beberapa kasus terorisme.




(nvc/nvc)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here